Kamis, 24 November 2011

Meraih Mimpi

Aku tidak menyangka bisa kuliah di Perguruan Tinggi di Jakarta,karena aku berasal dari sebuah kampung yang pada waktu itu terisolasi oleh peradaban.Bagaimana tidak,untuk pergi ke kota saja harus jalan kaki,disamping belum ada angkutan umum juga karena jalan untuk menuju ke kota adalah jalan tanah yang belum di kasih pengeras jalan raya berupa batu.Jika musim hujan datang jalanan jadi lumpur,untuk mengendarai sepeda ontel saja terkadang harus mengangaknya agar bisa lewat.

Selain jalan menuju ke kota jelek juga belum ada penerangan lampu listrik,aku tinggal bersama orangtuaku di sebuah desa nan unik yang tak mungkin ditemui anak-anak zaman sekarang.Ketika malam tiba aku harus ke masjid untuk belajar agama dengan mengabaikan belajar pelajaran sekolah.Menjelang sholat Isya’ belajar agamapun berakhir dan melakukan sholat Isya’ setelahnya aku bermain bersama teman-temanku,biasanya bermain Delikan atau istilah kerennya petak umpet.Kalau tidak aku bersama teman-temanku mencari ikan di kali dengan penerangan obor.

Setelah itu kami tidur di masjid rame-rame,dan subuhpun menyambut,aku dan kawan-kawan mengambil air wudhu untuk sholat subuh,setelah sholat subuh kami membuat perapian dari daun-daun kering supaya hangat kemudian pulang untuk mempersiapkan berangkat sekolah SD.Pulang sekolah kami bermain di kali untukceblon=bermain di kali dengan cara berenang dan naik gethek.

Kisah indah ini berulang-ulang hingga aku SMP,karena kelas 1 SMP aku tidak naik kelas aku dideportasi ke dua orangtuaku untuk tinggal di rumah nenek yang berada tidak jauh dari sekolahan.

Di tempat yang baru ini aku mempunyai teman-teman baru yang peradabannya lebih maju,dari baju dan cara bicara mereka lebih bagus.Akupun harus beradaptasi dengan lingkungan baru,namun tak menjadi masalah,justru di tempat yang baru inilah aku mendapatkan tempat yang istimewa dari kawan-kawan baruku,mereka sering main di tempat tinggalku.

Setelah mendapatkan ruang lingkup baru ini, aku mulai mengikuti peradaban mereka yaitu merokok,minum minuman keras,dan klayapan tiap malam ga karuan.Tapi tidak membuat prestasi sekolahku menurun meskipun nilai-nilai ulanganku selalu pas-pasan.

Setelah sekolah SMP berakhir aku harus melanjutkan sekolah yang lebih tinggi yaitu SMA,di SMA inilah aku mulai merasakan sebuah kebebasan yang sebelumnya tidak aku dapatkan,karena apa?Karena Ayahku seorang penganut agama yang kolot,aku sering di siksa dari kecil hingga SMA.

Ayahku selalu memukuliku jika aku bersalah tanpa konfirmasi terlebih dulu,perlakuan ini aku dapatkan hingga aku sudah SMA.Karena ayahku menginginkan aku belajar agama di Pondok Pesantren,tapi ibuku selalu memintaku untuk bersekolah umum saja.

Kekejaman ayahku ternyata ada hikmah di balik itu semua,aku menjadi remaja yang tegar ketika ekonomi keluargaku terpuruk,meskipun dalam hati aku tidak menerimanya.Ketika kelas dua SMA aku harus berhenti sekolah,selain aku tidak naik kelas biaya untuk meneruskan sekolah juga tidak ada.

Akhirnya aku menjadi pengangguran di kampung yang tidak siap kerja apa-apa.Dalam keadaan ini aku menjadi penjarah dan menjual hasil jarahan hanya sekedar utuk membeli MIE AYAM.

Karena orangtuaku semakin terpuruk aku putuska untuk meniggalkan kampung halaman dan menuju kota impian Jakarta.Rupanya di Jakartapun bukanlah tempat yang baik untukku karena aku harus menjadi tukang becak untuk meneruskan hidupku,akhirnya aku larut dengan kehidupan jalanan di ibu kota tercinta Jakarta.

Menjadi tukang becakpun mulai tidak aman karena Gubenur Wiyogo Atmo Darminto menyetirilkan Jakarta dari angkutan rakyat beroda tiga ini.Akhirnya aku menjadi pengangguran di Jakarta hingga kurang lebih satu tahun,akupun tetap tinggal di sana meskipun tidak setiap hari aku makan.Kadang satu minggu aku tidak makan apa-apa selain minum air putih minta di warteg.

Untuk mendapatkan uang lagi-lagi aku harus menjadi pencuri,kadang kalau hujan turun aku menjadi pengojek payung.Meskipun ibuku berpesan di manapun kamu berada nak janganlah menjadi pencuri dan pembunuh.Hal ini aku lakukan karena sangat terpaksa sekali karena untuk makan saja aku tidak ada.

Dengan kehidupanku yang sangat sengsara ini aku memutuskan untuk pulang kampung,tapi apa yang kulihat di kampung,ortuku tidak memiliki apa-apa lagi dan ke 4 adikku masih kecil-kecil.Akupun pergi ke kota Kudus untuk menjadi tukang becak lagi selama kurang lebih 3 bulan.Kemudian temanku yang di Jakarta mengabari aku ada pekerjaan baru yaitu menjadi sopir TOYOKO,TOYOKO adalah kendaraan roda tiga bermesin yang mirip seperti Bajaj.

Dari sinilah aku memulai kehidupan yang baru lagi,menjadi sopir toyoko ternyata banyak masalah karena sering mogok.Dari bermodal bisa mengemudikan TOYOKO itulah aku berani melamar menjadi sopir Bajaj.Dari hasil sopir bajaj, aku mengumpulkan uang untuk belajar mengemudi Taxi,karena aku harus membayar Rp10.000 perjam untuk belajar mengemudikan Taxi.

Akupun berganti pekerjaan menjadi sopir Taxi,selain dapat uangnya lebih banyak badanku juga lebih bersih.Tapi di sini aku dibutakan oleh minum minuman keras dan judi,hingga suatu ketika aku harus kena lever karena kurang tidur untuk bermain judi.

Lagi-lagi aku harus pulang kampung,ketika itu ekonomi ortuku mulai membaik dan ibuku menyarankan untuk melanjutkan sekolah SMA.Akhirnya aku melanjutkan sekolah di SMA Santo Yosep di kelas dua.

Setelah lulus SMA aku hijrah lagi ke Jakarta untuk melanjutkan kuluah sambil kerja yaitu menjadi sopir Taxi,karena aku yakin penghasilan sopir Taxi cukup untu biaya kuliah dan pada tahun 2001 aku di wisuda menjadi Sarjana Ekonomi.

Itulah makna perjalanan yang berliku-liku,bagi pembaca yang sudah menyelesaikan bacaan ini,aku mengharap untuk meyakini apa yang ada di pikiran kita,karena pikiran kita adalah suatu sugesti sebuah perwujudan cita-cita dan angan-angan.

Kisah ini adalah kisah nyata yang tidak direkayasa…….

Tidak ada komentar:

Posting Komentar