Aku tidak menyangka bisa kuliah di Perguruan Tinggi di Jakarta,karena aku berasal dari sebuah kampung yang pada waktu itu terisolasi oleh peradaban.Bagaimana tidak,untuk pergi ke kota saja harus jalan kaki,disamping belum ada angkutan umum juga karena jalan untuk menuju ke kota adalah jalan tanah yang belum di kasih pengeras jalan raya berupa batu.Jika musim hujan datang jalanan jadi lumpur,untuk mengendarai sepeda ontel saja terkadang harus mengangaknya agar bisa lewat.
Selain jalan menuju ke kota jelek juga belum ada penerangan lampu listrik,aku tinggal bersama orangtuaku di sebuah desa nan unik yang tak mungkin ditemui anak-anak zaman sekarang.Ketika malam tiba aku harus ke masjid untuk belajar agama dengan mengabaikan belajar pelajaran sekolah.Menjelang sholat Isya’ belajar agamapun berakhir dan melakukan sholat Isya’ setelahnya aku bermain bersama teman-temanku,biasanya bermain Delikan atau istilah kerennya petak umpet.Kalau tidak aku bersama teman-temanku mencari ikan di kali dengan penerangan obor.
Selain jalan menuju ke kota jelek juga belum ada penerangan lampu listrik,aku tinggal bersama orangtuaku di sebuah desa nan unik yang tak mungkin ditemui anak-anak zaman sekarang.Ketika malam tiba aku harus ke masjid untuk belajar agama dengan mengabaikan belajar pelajaran sekolah.Menjelang sholat Isya’ belajar agamapun berakhir dan melakukan sholat Isya’ setelahnya aku bermain bersama teman-temanku,biasanya bermain Delikan atau istilah kerennya petak umpet.Kalau tidak aku bersama teman-temanku mencari ikan di kali dengan penerangan obor.




